MATEMATIKA SEBAGAI ILMU YANG BERSIFAT ABSTRAK DAN
DEDUKTIF
Hubungan, pola, bentuk dan rakitan
yang merupakan sasaran matematika bukanlah akhir dari perumusan matematika tapi
dewasa ini justru yang ditelaah lebih jauh adalah matematika menyangkut
pengertian-pengertian abstrak.
Para ahli yang menyatakan matematika
sebagai ilmu yang bersifat abstrak antara lain
menurut Salomon Bochner,
matematika tidak berhubungan
dengan dunia luar, melainkan hanya dengan hal-hal dan hubungan-hubungan
yang merupakan gambaran- gambaran yang diciptakannya sendiri. Dengan ini
lahirlah pendapat yang menganggap matematika sebagai penelaahan tentang sistem-sistem
abstrak.Sejalan dengan itu filsuf Charles Sanders Peirce (1839-1914) menyatakan
bahwa matematika tidak berhubungan dengan keadaan senyatanya dari benda-benda
melainkan semata-mata dengan keadaan pengandaian dari benda-benda.
Dari pendapat di atas maka jelaslah
matematika tergolong sebagai ilmu yang bersifat abstrak atau sering juga
disebut matematika murni. Karena ciri-ciri matematika yang abstrak dan murni
itu kemudian Bertrand Russel membuat
perumpaan bahwa matematika dapat didefinisikan sebagai mata pelajaran yang
didalamnya kita tak pernah mengetahui apa yang sedang kita bicarakan maupun
apakah yang kita katakan adalah benar.
Perumpamaan yang dikemukakan Russell
mendapat tanggapan dari beberapa ahli matematika antara lain Bell manyatakan
bahwa perumusan itu menekankan sifat abstrak yang sepenuhnya dari
matematika. Lebih lanjut menyatakan perumusan Russel itu sesungguhnya
bukan suatu definisi matematika melainkan sebuah pelukisan dengan semacam sajak
pendek tentang ciri-ciri matematika murni atau matematika abstrak yang tumbuh
dalam abad ke 20 ini.
Untuk lebih jelasnya makna perumusan
Russel itu ialah bahwa setiap system matematika sebagai landasannya yang
penghabisan berpangkal pada unsur-unsur yang tidak diterangkan lebih lanjut,
dengan kata lain semua perumusan dalam matematika pada akhirnya didasarkan pada
istilah-istilah yang tak diuraikan artinya. Istilah dimaksud dalam bentuknya
sebagai lambang belaka tidak memiliki arti dari dunia kenyataan, kosong dari
pengertian. Untuk itu para ahli matematika tidak mengetahui apa yang sedang
dibicarakannya dalam matematika. Contoh sederhana :
(x + y)2 = x2 + 2xy + y2,
tidak diketahui apa arti lambang x dan y itu selama bergerak dalam bidang
matematika abstrak.
Para ahli dalam melakukan
langkah-langkah pengerjaan terhadap istilah-istilah yang tak diuraikan artinya
itu membuat kesimpulan-kesimpulan berdasarkan berbagai pernyataan yang telah
ditetapkan di atas.
Pernyataan-pernyataan yang mereka hasilkan lazimnya dinamakan aksioma atau
postulat. Misalnya “Keseluruhan adalah lebih besar dari pada bagiannya yang
mana pun”atau pernyataan “Melalui dua
titik yang berbeda hanya dapat
ditarik satu garis lurus. Aksioma atau postulat tersebut merupakan asas-asas
dasar yang kini dianggap sebagai kata sepakat dalam matematika yang tidak
dibuktikan kebenarannya. Oleh karena itu
dalam matematika murni apabila
para ahli menyusun dalil-dalil
dari aksioma/postulat itu mereka juga tidak mengetahui apakah yang dikatakan
itu benar atau tidak dalam hubungannya dengan dunia kenyataan. Kesimpulan atau
dalil ini hanyalah berlaku sesuai dengan deduksi yang dijalankan menurut
hukum-hukum logika.
Dari uraian di atas ternyata
matematika bukan saja ilmu yang bersifat abstrak tetapi juga bersifat deduktif,
untuk itu berbicara matematika bukan saja dilihat dari sisi sasarannya saja
melainkan yang lebih utama adalah metode logika atau metode pembuatan
kesimpulan yang dipakai, Oleh karena itu
dalam abad ke- 20 ini terdapat pendirian yang memandang matematika sebagai suatu metode pemikiran, sebagaimana
yang dikemukakan Morris Kline bahwa matematika adalah suatu metode penyelidikan
yang dikenal sebagai pemikiran berdasarkan postulat. Metode itu terdiri dari
merumuskan secara seksama definisi-definisi tentang pengertian-pengertian yang
akan dibahas dan menyebutkan secara tegas patokanpikir-patokanpikir yang akan
merupakan dasar bagi penalaran. Dari
definisi-definisi dan patokanpikir-patokanpikir
ini diturunkanlah kesimpulan-kesimpulan dengan menerapkan logika paling
ketat yang mungkin dipakai orang.
Pembuatan kesimpulan dari
patokanpikir-patokanpikir sebagaimana yang dikemukakan di atas lazim disebut penalaran
deduktif. Penyimpulan dari kumpulan aksioma yang ditetapkan pada berbagai
sistem matematika dan
kesimpulan-kesimpulannya hanyalah diterima setelah ditetapkan berdasarkan deduksi, bahkan menurut pendapat Bell tanpa pembuktian
deduktif yang paling ketat dari patokanpikir-patokanpikir yang disebutkan
secara jelas maka tidak ada matematika.
Dari penjelasan diatas, matematika
kadang-kadang dianggap sebagai cabang dari ilmu tentang pembuatan
kesimpulan, bahkan Benjamin Peirce (1809
– 1880 ) merupakan seorang ahli yang pertama kali menyatakan matematika adalah
ilmu yang menarik kesimpulan-kesimpulan yang perlu.
Rumusan Peirce maupun rumusan Russell tentang
matematika murni di atas merupakan rumusan yang paling banyak dikutip oleh
pengarang-pengarang buku matematika. Rumusan Russell menekankan pada sifat
matematika yang abstrak sedangkan Peirce menunjukkan sifat deduktif dari
matematika, namun baik Russell maupun
Peirce sesungguhnya tidak menjelaskan apakah matematika itu, tapi yang jelas
matematika sejak zaman kuno sampai masa
modern ini telah berkembang dari ilmu yang menelaah bilangan dan ruang menjadi ilmu yang bersifat abstrak dan deduktif yang menelaah
pengertian-pengertian abstrak dengan langkah penyimpulan yang logis dan metode
pemikiran berdasarkan postulat.
bagus ....
BalasHapusditunggu kunungannya di : http://gemarmatematika21.blogspot.com/